avatar
Catatan Pena

Avatar Lingkungan: Belajar Dari Kisahnya Mbak Irma Sebagai Avatar Penjaga Lingkungan

Oleh: Krisna Wijaya

#UntukmuBumiku, kutuliskan kisah singkat ini agar para manusia dapat lebih memahami dirimu 🙂

 

Di akhir tahun 2020 kemarin, tidak sengaja aku menemukan sebuah film dokumenter yang membahas refleksi singkat mengenai kehidupan manusia dan alam di tengah-tengah pandemi. Film dokumenter yang berdurasi 2 jam itu berjudul Diam & Dengarkan.

 

Awalnya aku iseng membuka video tersebut karena sekedar penasaran akan panjangnya film dokumenter itu, namun tanpa disadari ternyata sudah dua jam berlalu untukku menyelesaikan film itu sampai selesai

 

Film itu seakan-akan menggambarkan kepadaku mengenai ancaman dan keadaan bumi Indonesia yang sangat tidak baik-baik saja. Untukmu yang ingin menyelami dalamnya nilai film itu, silahkan tonton film dokumenter ini ketika selesai membaca tulisanku ini 🙂

link film akan kucantumkan di akhir ya ^^

Film itu seakan-akan memberikan gambaran kepadaku bahwa ancaman nyata yang menjadi pengancam keberlangsungan kehidupan lingkungan hidup itu ternyata adalah manusia itu sendiri.

 

Tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, dll., bukanlah kesalahan alam yang layak untuk kita salah-salahkan. Karena alam sejatinya hanya berperan sebagai cermin kehidupan, yang ketika kita memberikan kerusakan, maka alam juga akan memberikan hal serupa kepada kita para manusia.

 

Oleh karena itu, perlu disadari bahwa masing-masing dari kita seharusnya bertanggung jawab atas lingkungan yang kita tinggali. Karena bumi akan merespon setiap tindakan yang kita lakukan padanya. Apabila kita berlaku baik pada bumi, maka kita akan mendapat kebaikan dari alam itu sendiri, begitu juga dengan sebaliknya.

Refleksi Sejenak

Sebagai warga asli Jogja, belakangan ini ada sebuah berita menarik sekaligus menyentil telingaku terkait keadaan lingkungan di tanah kelahiranku itu. Berita-berita itu muncul untuk memberitakan informasi mengenai keadaan lingkungan Jogja yang sedang mengalami darurat penanganan sampah.

Usut punya usut, ternyata Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan mulai over kapasitas dalam menampung kiriman sampah masyarakat Jogja setiap harinya.

 

Berbagai upaya telah pemerintah daerah coba lakukan untuk menangani permasalahan ini, seperti menghimbau warganya untuk menekan pembuangan sampah, mengelola sampah rumah tangganya sendiri, membangun Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST), dll. Namun nampaknya semua usaha itu masih belum memberikan jalan keluar bagi permasalahan sampah yang terjadi.

 

Penumpukan sampah yang terjadi akibat TPA dan TPST yang penuh itupun tidak hanya memberikan efek buruk kepada manusia saja, namun ekosistem air, udara, bahkan perhutanan pun tidak luput dari dampak negatif timbunan sampah tersebut. Alhasil, kadang kala wilayah perhutanan yang sepi akan aktivitas manusia menjadi destinasi utama tempat pembuangan sampah alternatif.