Mata Air

Ketika Al-Qur’an Menjadi Sebaik-Baik Sahabat

Oleh: Ana Dwi Marlia

           

Ketika kalam-kalam mu menggema, damai hatiku mendengarnya

Nada-nada indah yang tersusun dengan Bahasa yang tiada tandingnya

Telah membuat hatiku luluh lanta, aku jatuh sejatuh-jatuhnya

 

Aku sadar, ada banyak rahasia yang tersembunyi yang tak ku tahu tentangmu

Apakah kau tahu saat kau selalu bersamaku, tenang yang kurasa

Saat kau telah berada dalam lubuk hatiku yang paling dalam

 

Aku merasa, aku telah memiliki dunia dan seisinya

Tahukah engkau dari hilir mudiknya nada-nada yang pernah ada

Namun, hanya kaulah yang paling abadi dan tak kan pernah terganti

 

Kaulah obat, obat dari segala penyakit dunia

Penyakit dunia yang membuat manusia terlena, terlena akan hiruk piruk dunia

Dari sekian pertanyaan, yang bahkan aku tak tahu dimana aku bisa menemukan itu

Ternyata, aku temukan pada dirimu, kaulah sebaik baik pedoman

 

Kaulah kalam-kalam Ilahi yang keindahan bahasanya tiada yang menandingi

Kaulah kalam-kalam indah yang datang dari Rabb-ku. Dan sebagai petunjuk hidupku

Aku beruntung akan hadirnya engkau dihidupku.

 

Seiring bertambahnya usia, Allah semakin menyadarkan bahwa apa yang telah dilalui dalam hidup hanya akan lewat begitu saja. Teman-teman yang dulu pernah berjuang bersama, kini hilang satu persatu. Orang-orang yang dulu selalu ada dalam lingkup perjalanan, kini sudah fokus untuk mendalami peran dalam kehidupan masing-masing.

 

Seiring bertambahnya usia, Allah menyadarkan bahwa sebaik-baik sahabat ialah Al-Qur’an. Karena apa? Karena al-Qur’an tidak pernah meninggalkan kita, kecuali kita sebagai manusia yang meninggalkannya. Karena hidup rasanya selalu tenang ketika Al-Qur’an berada dalam lubuk hati kita. Hati rasanya nyaman dan damai ketika kalam-kalam Allah diucapkan dan ketika kalam-kalam Allah ditadabburi.

 

Sungguh tiada kata seindah selain Al-Qur’an dan tiada bacaan yang indahnya melebihi Al-Qur’an. Dulu, ketika Allah belum menyadarkan, seakan persahabatanlah yang nomor satu. Seakan-akan sahabatlah yang selalu setia mendengarkan apa yang telah dirasakan. Akan tetapi ketika seiring berjalannya waktu, mereka seakan-akan berubah satu persatu fokus pada tujuan hidup masing-masing.

 

Di antara mereka ada yang terbawa oleh arus kehidupan duniawi dan meninggalkan syariat-syariat yang telah diajarkan. Sahabat yang dulunya searah, setujuan, kini entah hilang arah kemana. Nyatanya hubungan dengan manusia itu tak seindah hubungan dengan Al-Qur’an, karena tak ada yang abadi kecuali kalam Ilahi.

 

Ketika usia semakin menua dan ketika kembali dihadapkan dengan kenyataan mengenai kerasnya kehidupan, rasanya tidak terbayangkan, bagaimana rasanya kehidupan seseorang yang jauh dari al-Qur’an. Adakah benteng yang menghalangi dirinya untuk terus terjaga dari kerasnya kehidupan duniawi?

 

Ketika seseorang jauh dari Al-Qur’an mungkin otaknya terus dipenuhi tuk selalu mengejar hal-hal yang sangat duniawi. Ketika ia tidak mendapatkannya mungkin depresilah yang ia rasa. Berbeda dengan seseorang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat. Damai yang ia rasa. Ia selalu menerima terhadap ketetapan takdir yang telah Allah berikan.

 

Ketika manusia menjadikan al-Qur’an sebaik-baik sahabat dan sebaik-baik pedoman, maka sangatlah mungkin jika ia selalu mendapatkan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. karena kebahagiaan itu tidak dilihat dari materi, akan tetapi kebahagiaan itu berasal dari hati yang tenang dan damai. Semua itu bisa didapatkan dari ayat-ayat al-Qur’an. Ketika manusia selalu mendekat kepada Qur’an, maka ketentraman hati yang ia dapatkan.

 

Dalam kisah Bediuzzaman said Nursi, pernah diabadikan bahwa seorang Menteri koloni Inggris pernah berkata, “Selama para muslim menggenggam Al-Qur’an di tangan mereka, kita tidak bisa menguasai mereka. Kita harus hilangkan Al-Qur’an dari tangan mereka atau menjauhkan muslim dari Al-Qur’an.”

 

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita menjadikan Al-Qur’an sebagai sebaik-baik sahabat. karena Al-Qur’an tidak akan pernah mengecewakan, maka genggamlah ia erat-erat. Letakkanlah ia di dalam qalbumu yang paling dalam, karena kelak ia akan menunjukkan kemana jalanmu tuk selalu selalu mendekat kepada pemilik qalbu. Ketika engkau tersesat, ialah sebagai sebaik-baik cahaya. Ialah cahaya Ilahi yang akan terus abadi dan  cahaya yang tak akan pernah terganti.

 

                                                       

Mantingan, Ngawi Jawa Timur

Junior Researcher at Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) University of Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *