Mata Air

Keluarga : Tempat Pembentukan Pribadinya Kelak di Masa Depan

 

Oleh: Khairul Munzilin Al Kahfi

Apa itu keluarga ?

Keluarga merupakan orang terdekat bagi setiap manusia dan tempat mencurahkan segala isi hati maupun masalah menurut pandangan agama Islam, sehingga peranan keluarga sangat besar bagi tumbuh kembang si anak.

 

Mengutip sebuah tulisan di dalam jurnal pendidikan Islam dengan judul Pentingnya Peran Orang Tua dalam Membentuk Kepribadian Anak Vol. 1, No. 2, Desember 2019 yang di tulis oleh Samsudin dari Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo, bahwa peran keluarga dalam proses pembentukan kepribadian anak sangat besar, keluargalah yang menyiapkan perkembangan kepribadian anak sejak dini dan bukan lembaga pendidikan baik itu sekolah negeri maupun swasta. 

Kenapa Harus Keluarga ?

Karena keluargalah yang selalu hadir dalam setiap momen yang ada dalam hidup seorang anak, baik itu moment indah ataupun buruk sehingga tersimpan baik dalam memori ingatannya dan menjadikannya pribadi yang sesuai dengan apa yang telah dia tangkap saat waktu kecil dan mempraktekannya ketika telah dewasa, seperti sabda Rasulullah yang berbunyi :

 

Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memberi nama yang baik, memberi tempat tinggal yang baik, dan mengajari sopan santun.” (HR. baihaqi).

 

Perlu kita garis bawahi bahwa mengajari sopan santun ini diperuntukan tidak hanya orang tua saja, melainkan seluruh keluarganya karena mengajari pasti perlu yang namanya panutan atau uswatun hasanah ( teladan yang baik ) dan teledan itu berlaku untuk keluarga karena jika seorang anak baik berkat didikan orang tuanya, namun tidak menutup kemungkinan dapat berubah ketika berada bersama keluarga atau kerabatnya yang kurang baik, sehingga perlu perhatian ekstra dalam membimbing.

Permasalahan dari Masalah Ini

Permasalahannya adalah dalam pergaulannya ketika berada di masyarakat, karena jika kurangnya perhatian dari orang tuanya maupun keluarga, maka akan berdampak pada mental si anak yang akan memberontak dalam artian bebas dalam melakukan segala hal asal itu baik menurutnya (namun tidak baik dalam agama).

 

Bahkan banyak hal yang tidak di perbolehkan oleh agama namun mereka ingkari guna memenuhi keinginannya. Contohnya adalah kasus dispensasi nikah yang terjadi di negeri ini, berdasarkan data Badan Peradilan Agama (Badilag), terdapat 50.673 dispensasi perkawinan yang diputus pada 2022.

 

Angka ini lebih rendah 17,54% dibandingkan pada 2021 yang sebanyak 61.449 kasus dan ini pun tidak termasuk angka kasus yang terjadi pada awal Januari 2023. Mungkin banyak kalangan masyarakat yang menyalahkan pergaulan bebas, tapi jika di tarik benang merah dari permasalahan ini akan merujuk kepada peranan orang tua serta keluarganya dalam mendidik dan membentuk pribadinya.

 

Tapi tidak menutup kemungkinan keburukan itu tidak hanya terjadi di luar lingkup keluarganya, namun terjadi di dalam keluarganya. Contoh kecilnya ialah kasus yang terjadi baru-baru ini pada tanggal 3 Februari 2023 di Sukabumi, Jawa Barat. Di mana seorang nenek melaporkan pelaku pencabulan pada cucunya yang baru berusia 8 tahun, namun sangat disayangkan sang nenek sebagai pelapor justru di laporkan balik oleh pelaku atas tuduhan telah menganiaya pelaku yang tidak lain adalah paman korban.

 

Maka perlu di cermati bahwa pelaku merupakan keluarga korban bukan orang lain, tidak heran jika seorang anak akan mendapatkan trauma yang begitu besar jika keluarganya sendiri yang melakukan keburukan kepadanya atau bahkan dengan kejadian itu di takutkan akan berdampak pada mental anak tersebut sampai membuatnya berbuat buruk kepada orang lain. Ingat otak seorang anak menyimpan lebih banyak memori dari pada seorang dewasa.

 

Keluarga yang seharusnya menjadi rumah yang damai untuk seorang anak, tempat bersandar jika ada masalah dan bagian dari pembentukan pribadi anak, namun berubah menjadi tempatnya masalah, trauma, tekanan mental. Ibarat anak di gambarkan sebagai kertas yang masih kosong, maka lingkungan terdekatnya lah (orang tua & keluarganya) pena nya dalam menulis segala hal di dalam kertas tersebut.

 

Solusi dalam masalah ini.

Solusi dari permasalahan ini adalah :

  1. Menanamkan ajaran Islam. Meskipun tidak semua muslim mendapatkan keislamannya dari keluarga yang melahirkannya, tetap saja keluarga adalah tempat pertama dimana seorang anak belajar tentang agama islam.
  2. Memberikan rasa tenang. Keluarga adalah orang terdekat bagi setiap manusia dan tempat mencurahkan segala isi hati maupun masalah.
  3. Menjaga kemuliaan dan wibawa manusia. Menjaga nama baik keluarga adalah tugas setiap manusia karena saat manusia berbuat kesalahan maka hal tersebut juga tidak hanya ditimpakan pada dirinya melainkan juga kepada keluarganya.

 

Dengan menanamkan ajaran Islam dari kecil, maka akan membentuk kepribadian yang baik untuk anak serta menanamkan ajaran Islam ini tidak hanya berlaku untuk orang tua saja, namun bagi keluarganya pula.

 

Itulah guna nya silaturahim dengan kerabat terdekat (keluarga) tidak hanya saling menyapa atau mempererat tali silaturahim saja, namun sempatkanlah berbincang atau berdiskusi mengenai Islam yang dapat menjadi sebuah nasihat bagi mereka.

 

Karena nasihat laksana kuda yang berlari menuju tujuan di sebuah padang pasir, sedangkan kemaksiatan adalah badai pasir yang mengejarnya dari belakang guna menutup penglihatannya sehingga tersesat dalam perjalanan. Jangan pernah berhenti menasihati seseorang karena takut mereka mudah terjerat hawa nafsu, seperti yang telah Allah jelaskan dalam Al-Quran Surat Al-’Asr ayat 3 yang berbunyi :

 

اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ

 

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. (Q.S Al-’Asr : 3)

 

Jika seorang manusia sulit untuk di nasihati maka sayang beribu sayang hatinya sedang tertutup oleh gelapnya kemungkaran. Oleh karena itu kita sebagai muslimin selalu lah untuk saling menasehatinya disetiap keadaan.

 

Maka sebagai calon orang tua kelak ataupun telah menjadi orang tua, patutlah mengajarkan kebaikan kepada buah hati dan selalu menjaganya dalam pergaulan maupun dalam cara berpikirnya dengan mendekatkan diri kepada anak, serta sebagai keluarga pun turut ikut ambil dalam perkembangan buah hati, sehingga terciptalah keluarga yang harmonis tidak hanya orang tua saja namun seluruh keluarganya.

Junior Researcher at Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) University of Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *