Mata Air

Sepucuk Surat di Tahun ke-22

Oleh: Sendah Maulaya

 

Perjalanan manusia sungguhlah hebat. Bersama dawai yang dipetik dari gitar kehidupan setiap harinya. Ada saja yang bahagia, tertawa, terjerumus, terluka, dan ternistakan di saat yang sama. Setiap kejadian menghadirkan sejuta rasa yang berbeda di hati setiap insan. Tak terkecuali di tahun ke-22 ini, seluruh peristiwa besar yang membersamainya berujung pada pengakuan dosaku hari ini.

 

Hari masih petang. Angin mendesah sedikit. Seperti sengaja menitipkan embusan nafas beratnya pada manusia yang menanggung beban dosa sepertiku. Kuambil kertas dan pena. Rasanya tidak ada cara lain untuk meluapkan rasa kecuali dengan tulisan. Seperti kebiasaanku dulu-dulu, selalu menyebut nama dalam setiap goresan. Di tahun ke-22 nama Kak Ameer yang kusebutkan.

 

Isi suratku …,

 

“Kak Ameer, sesungguhnya Sida sedang kehilangan orientasi. Lagi dan lagi ketika Sida ingin memulai menulis lagi, tulisan Sida adalah tentang pertanyaan, apa makna sesungguhnya dalam hidup? Apa tujuan sebenarnya dalam hidup? Kak Ameer, Sida sadar berkali-kali Allah memberi tahu Sida melalui ciptaanNya, melalui tanda-tanda kekuasaanNya, akan tetapi sejumlah itu pula Sida bebal.

 

Sida sedang jauh dari Allah. Sida sedang berdiri di tepian kapal milik Sida, hingga tak seorang pun berdiri di balik kemudi. Kapal Sida oleng, tidak juga berlabuh, tidak juga berlayar dengan mantap. Sedangkan Allah sudah tegak berdiri di pulau Seberang, menanti Sida dengan penuh pengharapan. Tetapi Sida masih saja enggan menuju kemudi.

 

Kak Ameer, Sida mempunyai banyak kesalahan yang besar-besar yang sulit untuk diungkapkan. Jika hati Sida adalah segumpal daging sekepalan tangan, maka setengahnya itu sudahlah menghitam. Tidak ada yang tahu, sebab tidak satupun bisa mengintip ke dalam.

 

Kak Ameer, Sida ingin bertanya, bagaimana jika kebaikan yang kita lakukan hari ini tidak kita mintakan pahalanya dari sisi Allah kelak, tetapi kita mintakan dosa dan kesalahan kita pada manusia dihapuskan saja? Apakah bisa seperti itu? Betapa malu Sida meminta maaf, sebab Sida adalah manusia terbebal yang sulit menarik ucapannya sendiri.

 

Terima kasih sudah mendengarkan Sida malam ini. Jika, besok Sida mencari kak Ameer lagi artinya Sida membutuhkan sosok-sosok yang seperti kak Ameer untuk menenangkan hati.”

 

***

Kulipat suratnya rapi. Di tahun ke-23 kalau aku mengulangi kesalahan yang sama. Aku berjanji tidak akan menulis surat padamu lagi, Kak!

Junior Researcher at Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) University of Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *