Mata Air

Kronologi Ihdina

Oleh: M. Adam

 

Suatu ketika saya merenung berfikir, sebagai mahasiswa tentu wajar jika mengharap akan prestasi, di titik prestasi orang lain bahkan, saya sering merasa insecure dalam bahasa saat ini dengan pencapaian orang lain. Saat saya berkata menghibur hati “orang lain memiliki kesempatan masing-masing” tak kunjung mengobati dera hati.

 

Hal itu justru membuat diri serasa lebih jumud dan cenderung pasif dan ini nyata, berkata dengan santai takdirku akan tiba suatu saat, entah di saat yang TEPAT atau  TEPAT di saat orang lain sudah jauh melintang dunia. Pikiran lain justru bersliweran mencampak akal saya dan berpikir “apakah saya cukup materialis bila mengharapkan sebuah prestasi diri ?”

 

Dengan cara pemaknaan dan pandangan dangkal terhadap kata “Prestasi”, prestasi seseorang menjamin kualitas ilmu nya atau sederhana nya “kalo berprestasi, maka saya akan pintar”, apakah cukup materialis jika yang saya inginkan adalah tembok prestasi yang terpampang sedang saya melupakan eksistensi susunan bata yang membangun keilmuan itu sendiri?

 

Rasa resah ini kemudian terjawab dengan pikiran dasar yang mudah melalui sebuah  penalaran diri. Saya berpikir ilmu bukan sebatas perluasan akal pikiran, namun ilmu harus memperluas akal pikiran dan kesadaran hati dan membutuhkan perlakuan dan perhatian mendalam. Adapun menjaganya agar selalu teguh dalam keikhlasan hati dan konsistensi terhadap progres diri, resah itu wajib!

 

Tapi cukup kamu ketahui prestasi bukan lah jaminan utama otentik nya sebuah ilmu. Prestasi keilmuan adalah MEDIA perluasan keilmuan, BUKAN menjadi syarat fundamental substansi ilmu itu sendiri Sikap iri bahkan dengki bisa sekali di awali dengan insecure, maka perenungan kembali esensi ilmu juga harus dilakukan.

 

Lantas bila kau bertanya apa media yang bisa menstabilkan substansi ilmu sekaligus sustainabilitynya, maka jawabannya ada di luar keterbatasan renungan akal pikiranmu menuju sebuah esensi yang tak terbatas Tuhan semesta alam. Tak hanya sebuah ilmu, bahkan semua pekerjaan dengan dasar MAHA ABSOLUT ini jauh lebih sukses menjaga substansi, perluasannya, dan pengaplikasiannya.

 

Perenungan ilmu adalah syarat wajib otentiknya ilmu dan hidayah adalah atom utama perenungan. Hidayah adalah hadiah.



اهدنا الصراط المستقيم

 

Ucapkanlah kata ini dengan kesadaran penuh akan petunjuk apa yang kau perlukan untuk menguatkan substansi ilmu mu sehingga menjaganya selalu di jalan yang benar.

Junior Researcher at Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) University of Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *