Mata Air

Manusia Sempurna

Oleh: Sendah Maulaya.

 

Hujan adalah simbol kearifan di mana kehidupan di mulai dan di lanjutkan. Ia menghidupi setiap tanaman, baik padi ataupun gulma, pepohonan ataupun ilalang, tanaman perdu atau sekedar rumput penganggu. Hujan bagi petani adalah limpahan rahmat tak terkira, bagi nelayan adalah bencana sementara, bagi siswa-siswi sekolah adalah kegembiraan sebab ada alasan untuk datang terlambat.

 

Bagi gadis perenung sepertiku, acapkali hujan deras membasuh, bumi seperti dibersihkan dari kotoran-kotorannya. Dibasuh dan disucikan. Hujan juga bermakna mengaburkan semua kesedihan. Supaya di tengah hiruk-pikuk manusia yang beraktivitas tidak ada yang bisa mendengar isak tangis di sela-sela hujan yang deras, bahkan sahabatku sendiri.

 

Lamunanku soal hujan diberhentikan oleh seorang gadis seusiaku yang baru saja datang. Dia sahabatku. “Allahumma shoiyiban nafi’an,” katanya sembari menengahkan tangan memberi isyarat padaku agar melakukan hal serupa. “Apakah kau memikirkan hal itu, Sahabatku?” terkanya dengan sangat tepat.

 

Aku menggeleng pelan lantas mengangguk, “Siapa pun itu pasti akan memikirkannya kalau berada di posisiku,” kataku pelan setelah mendesah berat.

 

Dia mendekat, menyejajari dudukku. Menopang wajahnya dengan kedua telapak tangan.

 

“Kamu tahu sahabatku, satu tindakan seseorang sama seperti hujan!” katanya mantap. Aku mempertegas mimik penasaran dengan ucapannya.

 

“Kamu melakukan sesuatu yang tidak salah tidak juga benar. Manusia selalu seperti itu. Tidak selamanya benar dan tidak selamanya salah dalam setiap tindakannya. Seperti juga hujan mendatangkan manfaat bagi petani juga madharat bagi nelayan. Tapi, kamu benar, Sahabatku! Hujan apa pun itu akan membersihkan, menyucikan! Tindakanmu yang keliru kemarin, yang ditentang bahkan dihakimi oleh orang-orang kemarin, mungkin saja keliru tapi ada benarnya. Kemudian, yang lebih penting dari itu, tindakanmu kemarin menyucikan jiwamu kembali. Mengantarkanmu pada pintu taubat penghambaan yang sebenarnya pada Tuhan,” ceramahnya panjang.

 

“Satu lagi sahabatku, tidak ada manusia sempurna. Tidak ada manusia yang bisa menghakimi manusia lainnya dengan sangat adil. Kesalahan itu bukan aib, bukan juga hal yang buruk jika muaranya adalah hati yang bersih dan mau berbenah diri.” Dia berkata dengan fasihnya. Aku mengangguk saja. Ucapannya terdengar menenangkan di kamarku di tengah badai hujan di luar sana. Terima kasih, terima kasih sudah memberi pemahaman baru.

Junior Researcher at Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) University of Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *