Catatan Pena

Menjadi Mahasiswa Ambisius

Hingga detik ini, akupun tak membayangkan bahwa diriku akan menjadi seambisius ini dalam mengejar hal-hal yang beberapa tahun lalu tak pernah kubayangkan sama sekali akan terjadi saat ini. Hingga bisa dikenal oleh jajaran pimpinan, terkhusus diingat oleh ayah ideologis, Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi adalah sebuah kesyukuran besar dalam perjalananku menjadi mahasiswa ambis di kampus Darussalam.

 

Banyak hikmah serta arah impian baru yang kudapatkan dengan menjadi seorang mahasiswa yang ambis ketika masih menjadi mahasiswa di kampus Darussalam. Di sini akan kuceritakan sedikit pandanganku mengenai sosok mahasiswa ambis dalam benakku dan semoga para pembaca dapat mengambil hikmah dari kisah yang kulalui itu.

Menjadi Ambisius

Sampai saat ini aku tidak sadar bahwa diriku telah menjadi seorang mahasiswa ambis saat ini. Walaupun pendidikan strata 1 ku sudah usai, namun jiwa dan semangatku masihlah tetap menjadi mahasiswa ambis saat ini. Hanya perbedaanya ambisku saat ini lebih mencoba memberi dampak ke sekitar daripada berdampak pada diri sendiri.

 

Menjadi ambisius sebenarnya sah-sah saja dan merupakan sebuah keharusan bagi mahasiswa yang sedang menempuh jenjang pendidikan sarjana khususnya. Dalam sebuah kesempatan kunjungan ke Turki, Prof. Hamid pernah memberi nasihat bahwa mahasiswa sarjana itu harus memiliki obsesi yang besar terhadap studi mereka. Mahasiswa yang tidak memiliki obsesi dalam dalam studinya, maka dia tidak akan menjadi apa-apa dan mendapat apa-apa di akhir.

 

Dari pernyataan beliau dapat kusimpulkan bahwa obsesi yang dimaksud oleh beliau salah satunya adalah menjadi mahasiswa yang ambisius ketika menjalani proses studinya. Dengan sifat ambisius itu, maka seorang mahasiswa akan mengoptimalkan pencapaian yang bisa dicapainya ketika proses studi sedang berjalan.

 

Seberjalannya waktu, kutemui beragam corak mahasiswa ambis yang ternyata berbeda-beda corak keunikannya masing-masing. Beberapa yang kutemui adalah mahasiswa yang ambis pada dirinya sendiri, mahasiswa yang ambis kepada orang lain, mahasiswa yang ambis namun dalam dimensi yang berbeda, dan mahasiswa yang menyeimbangan sisi keambisannya.

Ambis Untuk Dirinya

Corak pertama yang kulihat adalah mereka mahasiswa yang ambis untuk dirinya sendiri. Mereka adalah sosok mahasiswa yang memiliki kepentingan dan tujuan lebih kepada dirinya sendiri. Kalaulah ibarat pohon cemara, mereka adalah pohon yang menjulang tinggi ke atas tanpa mencoba mengayomi orang-orang di sekitarnya.

 

Mereka adalah mahasiswa yang ambis untuk kepentingan dirinya sendiri dan mencoba bersinar dengan sendirinya tanpa mencoba mengajak orang lain bersinar. Walaupun harus mengorbankan kegiatan organisasi di waktu yang bersamaan, mereka tetap memilih kepentingannya sendiri ketika hal itu terjadi di waktu yang bersamaan.

 

Dalam hal lomba misalnya, aku sudah menjumpai sosok mahasiswa yang di satu waktu diamanahi sebagai orang yang sangat dibutuhkan dalam sebuah kegiatan organisasi, namun di sisi lain dia justru memilih kegiatan lomba pribadinya dan meninggalkan kegiatan organisasi yang sedang diamanahkan padanya.

 

Inilah corak sosok mahasiswa ambis pertama yang kujumpai di kampusku dulu. Mereka benar-benar bersinar dengan prestasinya, namun tidak jarang kegiatan organisasi menjadi korban dan mereka bersinar untuk dirinya sendiri. Mereka adalah mahasiswa bertitle berprestasi, namun hanya untuk dirinya sendiri.

Ambis Dalam Berdampak

Corak tipe mahasiswa ambis kedua yang kutemukan adalah mahasiswa yang ambis terhadap dampak yang dimilikinya kepada orang-orang disekitar dan dalam berkehidupan bermasyarakat. Corak ini biasanya kujumpai dari kalangan teman-teman aktivis kampus yang aktif di wadah-wadah gerakan sosial seperti ACT, Lazismu/Lazisnu, dll.

 

Di samping itu, mereka juga terlibat dalam kegiatan pengabdian serta volunteer dengan rutinnya. Tak jarang mereka juga mengadakan beragam kegiatan pengembangan diri di beragam institusi pendidikan yang ada.

 

Mereka sosok yang bersinar dan ambis dengan dampak yang mereka bawa di setiap langkahnya. Kawan-kawan aktivis Salman (aktivis kaderisasi masjid Salman ITB) juga menjadi salah satu role model mahasiswa yang ambis dalam berdampak untuk sesama.

Menyeimbangkan Keambisan

Di antara mahasiswa yang ambis dalam berprestasi dan berdampak pada sesama, aku juga mengenal sekaligus mengetahui beberapa sosok yang dapat menyeimbangkan dua hal itu. Mereka bisa tetap berprestasi secara akademik ataupun organisasi, dan di saat yang bersamaan memberi dampak yang nyata kepada sekitarnya.

 

Inilah corak obsesi sekaligus keambisan yang haris di dimiliki oleh setiap mahasiswa. Memang baik menjadi mahasiswa yang memberi dampak kepada sesama, namun akan lebih baik apabila dampak itu juga dibersamai dengan prestasi akademik yang menghiasi rekam jejaknya ketika menjadi mahasiswa.

 

Dengan begitu seorang mahasiswa dapat tumbuh selayaknya pohon cemara yang tinggi menjulang dan memberi kerimbunan pada kehidupan sekitar. Sebagaimana pepatah yang dikatakan Prof. BJ Habibie bahwa menjadi mata air yang memberikan kehidupan kepada sekitar.

Jadilah Ambis

“Jadilah ambis” adalah pesanku untuk setiap insan yang membaca tulisanku saat ini. Salah seorang temanku bertanya, “Kenapa seambis itu?”

 

Maka jawaban setiap orang akan berbeda-beda. Ada yang menjadi ambis karena tujuan besarnya di masa mendatang. Ada yang menjadi ambis karena ingin menjadi manusia yang bermanfaat kepada sesama. Kemudian ada juga yang ingin menjadi ambis karena di awali untuk memberikan pembuktian.

 

Yah, diriku adalah yang terakhir. Perjalanan ambisku di mulai adalah untuk mencari sebuah pembuktian karena beragam pandangan negatif yang sampai kabarnya kepadaku. Seberjalannya waktu hingga saat ini, aku sudah melewati 3 fase keambisan yang kutuliskan di atas. Menjadi ambis untuk diri sendiri, menjadi ambis untuk memberi dampak pada sesama, dan kemudian saat ini menyeimbangkan sisi kedua hal itu.

 

Banyak hikmah perjalanan yang kujumpai dengan menjadi mahasiswa yang ambis. Bahkan dapat kukatan bahwa kalaulah dulu aku tidak ambis, mungkin tidak ada diriku yang berdiri dan berproses hingga di titik yang ada saat ini.

 

Maka dari itu, untukmu yang masih berada di bangku sarjana, jadilah ambis sedari dini. Berlarilah ketika teman-temanmu sedang berjalan. Hingga ketika dirimu memilih berjalan, namun teman-temanmu melihat dirimu masih tetap berlari (value dan standarmu telah meningkat).

 

Aku telah merasakan sendiri dampaknya, maka sekarang adalah giliranmu untuk mencoba mengukir kisah keambisan dalam perjalanan akademikmu.

Junior Researcher at Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) University of Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *